TERNATE ANCAMAN KRISIS AIR BERSIH

TERNATE ANCAMAN KRISIS AIR BERSIH

(Studi Analisis Kebencanaan)
Oleh:
Julhija Rasai, ST, MT
Dosen Fakultas Teknik Pertambangan UMMU

Kajian air tanah atau air dibawah permukaan tanah yang dapat dikonsumsi “air bersih” di pulau Ternate, atau yang dikenal dengan sebutan pulau gunungapi Gamalama tidak hanya menjadi potensi ancaman bencana bagi masyarakat yang menghuni, akibat erupsi (letusan), akibat aliran lahar, akibat aliran lava dan aliran awan panas dari aktifitas gunungapi itu sendiri akan tetapi juga terdapat potensi ancaman bencana lain seperti bencana sampah yang telah menganggu aktifitas masyarakat diberbagai sudut perkotaan dan saat ini Kota Ternate dikejutkan ancaman bencana krisis air bersih.

Krisis air bersih di Kota Ternate, yang diprediksikan akan terjadi berdasarkan pada kajian-kajian literatur dengan berbagai variabel dan parameter terukur seperti yang dikemukakan oleh (Nurutami dan Hidayat, 2016) bahwa, kajian tentang sumber daya air di pulau-pulau vulkanik perlu dipahami proses geologi dan struktur yang terlibat dalam siklus hidrologi. Ketersediaan air tanah dari penyimpanan di pulau kecil dipengaruhi oleh ukuran pulau, kondisi geologi dan proses pengisian ulang di pulau-pulau kecil yang sangat dipengaruhi oleh curah hujan, evapotranspirasi, vegetasi dan kondisi tanah. Persoalan ketersediaan air bersih yang telah dikaji dengan berbagai pendekatan-pendekatan yang tidak hanya bersumber pada studi literatur akan tetapi juga berdasarkan pada kajian berupa Forum Grup Diskusi (FGD) maupun kegiatan City Wide Assessment serta hasil survey yang banyak memberikan data dan informasi terkait kondisi ketersediaan air bersih yang pada kajiannya tersebut telah teridentifikasi beberapa hal yang menjadi permasalahan dan perlu diperhatikan sebagai bentuk respon pencegahan dan penanggulangan potensi terjadinya krisis air bersih di Kota Ternate, sebagai berikut.

Permasalahan yang pertama adalah Kegiatan eksploitasi wilayah konservasi hutan sebagai (Rain Catchment Area) terutama pada Daerah Aliran Sungai (DAS) di kawasan hulu puncak gunungapi Gamalama telah beralih fungsi, yang sangat berdampak pada proses terjadinya Infiltration (resapan) untuk kebutuhan air tanah. Permasalahan alih fungsi lahan di Kota Ternate hampir terjadi disebagian besar kelurahan yang berada hulu dimana, kawasan konservasi hutan berubah menjadi lahan-lahan pertanian dan lahan perkebunan yang saat ini mulai terbangunkan kawasan terbangun atau yang dikenal dengan permukiman seiring dengan lajunya kesuburan infrastruktur perkotaan. Kurangnya ketegasan regulasi dan sosialisasi tentang Rencana Tataruang Wilayah (RTRW) tahun 2012-2032, kepada masyarakat setempat menjadi salah satu pemicu persoalan alih fungsi lahan, sehingga maraknya penebangan hutan pada wilayah konservasi sebagai hutan produksi dan bukan lagi menjadi hutan lindung.

Permasalahan yang kedua adalah Cadangan air tanah di Kota Ternate semakin berkurang dan ancaman meningkatnya intrusi air laut atau yang dikenal dengan penerobosan air laut kedaratan pesisir pantai (air salobar) khususnya di pulau Ternate. Banyak variabel yang mempengaruhi atau menganggu stabilitas air tanah salah satunya alih fungsi lahan seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, pengambilan air tanah yang berlebihan tanpa memperhitungkan cadangan air tanah dan lemahnya regulasi tentang distribusi air bersih sesuai kebutuhan masyarakat perkotaan di Kota Ternate. Kurangnya kesadaran dalam memanfaatkan dan mengelolah air hujan menjadi salah satu sumberdaya air bersih yang sebenarnya dapat dilakukan pada kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) dan pada kawasan permukiman baik itu pemberdayaan sistem drainase maupun pemenfaatan instalasi perumahan. Kegiatan reklamasi pantai juga menjadi salah satu parameter berkurangnya ketersediaan air bersih di Kota Ternate dikarenakan pengrusakan ekosistem laut yang berdampak pada abrasi pantai serta tekanan air laut yang tinggi, penimbunan parmanen yang menyebabkan terperangkapnya air laut yang dapat terkontaminasi dengan air tanah permukaan sebagai akuifer dangkal, apalagi kondisi struktur batuan gunungapi Gamalama yang didominasi oleh sesar dan kekar pada kawasan pesisir pantai mempermuda terjadinya penerobosan (intrusi) yang apabilah terdapat kekosongan air tanah pada akuifer. Akuifer sendiri merupakan suatu tubuh batuan baik itu batuan beku, batuan metamorf dan batuan sedimen yang dapat berfungsi menyimpan dan meluluskan air “sebagai air tanah”.

Kota Ternate dengan berbagai dinamika demografi dan kebutuhan hidup maka ketersediaan air bersih kini menjadi isu strategis perkotaan. Ketersediaan air bersih yang menjadi perhatian akan terjadi krisis merupakan persoalan yang sangat serius dikarenakan memiliki korelasi terhadap persoalan eksploitasi wilayah konservasi hutan sebagai kawasan (Rain Catchament Area) telah beralih fungsi dan juga berhubungan pada persoalan semakin berkurangnya cadangan air tanah yang berdampak pada intrusi air laut, ke dua persoalan utama tersebut diatas perlu adanya rencana strategi yang dimainkan oleh stakeholder kunci (Instansi Pemerintah Terkait) dalam penanganan persoalan ketersediaan air bersih.

Strategi kebijakan yang perlu dilakukan oleh stakeholder kunci dalam penanganan masalah ketersediaan air bersih dapat berupa mempertegas regulasi yang mengatur tentang Rencana Tatarung Wilayah (RTRW) tahun 2012-2032 Kota Ternate, pengembalian fungsi lahan dan menajemen pemanfaatan dan pengelolaan air bersih sebagai berikut.
Strategi pertama adalah Upayah mempertegas regulasi yang mengatur tentang Rencana Tataruang Wilayah (RTRW) Kota Ternate tahun 2012-2032, sangatlah penting mengigat lajunya pembangunan infrastruktur setiap tahunnya berdampak pada kebutuhan lahan permukiman atau yang dikenal dengan kawasan terbangun. Kota Ternate dengan berbagai aktifitas pembangunan infrastruktur yang berada dibawah kaki gunungapi Gamalama, selalu mengalami peningkatan kawasan terbangun yang mengarah ke puncak gunungapi Gamalama.

Pembangunan kawasan terbangun merupakan suatu pembangunan fisik yang dilakukan oleh masyarakat dan pemerintah dalam hal ini, masyarakat melakukan pembangunan fisik berupa tempat hunian dan pembangunan fisik yang dilakukan oleh pemerintah seperti perkantoran, jalan, sekolah, pasar dan fasilitas umum lainnya. Kondisi tersebut berdampak pada pengalihan fungsi lahan seperti yang terjadi dimana lahan konservasi beralih menjadi lahan pertanian dan lahan perkebunan yang saat ini mulai terbangunkan kawasan terbangun (permukiman). Persoalan tersebut perlu adanya inisiatif penanganan dengan melakukan pembatasan Izin Membangun Bangunan (IMB) yang semakin ke arah puncak gunungapi Gamalama, serta tindakan aksi berupah sosialisasi Rencana Tataruang Wilayah (RTRW) tahun 2012-2032 kepada masyarakat yang difokuskan pada batas-batas kawasan lahan produksi, lahan konservasi dan lahan permukiman.

Strategi Kedua adalah Mengembalikan fungsi lahan sebagaimana hasil kajian secara geografis maupun secara spasial (keruangan) pulau Ternate memiliki grafik peningkatan kawasan terbangun hampir disemua kelurahan yang berada dihulu setiap tahunnya sejak tahun 2008-2016 dan beberapa kelurahan dapat menjadi sampel berkembangnya kawasan terbangun seperti di Kelurahan Tubo dan Kelurahan Dufa-Dufa. Oleh karenanya perlu suatu inisiatif seperti pemulihan kembali (Rain Catchament Area) dengan beberapa tindakan atau rencana aksi yang dapat dilakukan berupa penanaman pohon ke arah puncak gunungapi Gamalama, gerakan penanaman pohon disetiap pekarangan rumah serta mengembalikan fungsi Daerah Aliran Sungai (DAS) dengan merelokasi bangunan fisik diatas bantaran sungai.

Strategi Ketiga adalah Menajemen pemanfaatan dan pengelolaan air bersih melihat kondisi ancaman krisis air bersih di Kota Ternate sudah semakin terlihat dan telah teridentifikasi dibeberapa tempat di kelurahan yang terutama dikawasan pesisir pantai pulau Ternate. Cadangan air tanah yang semakin berkurang kerena pengembilan air tanah yang berlebihan tanpa proses pengisian yang baik (Infiltration) pada Catchament Area akibat persoalan-persoalan alih fungsi lahan maka, sangat berpengaruh (berdampak) pada terjadinya penerobosan air laut (Intrusion) ke daratan pesisir pantai yang saat ini telah mengangguh stabilitas penyediaan air minum oleh Perusahan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Ternate, yang terancam harus melakukan eksplorasi dan pemetaan kembali sumber daya air minum baru.

Untuk menanggulangi persoalan ketersediaan air bersih yang akan semakin kompleks kedepan karena memiliki efek domino maka, perlu adanya upayah-upayah strategi yang dilakukan oleh berbagai Stakeholder kunci seperti menajemen pemanfaatan dan pengelolaan air bersih dengan berbagai inisiatif-inisiatif pemanfaatan air hujan, penegasan regulasi penggunaan air bersih dan membatasi kegiatan reklamasih pantai. Inisiatif pemanfaatan air hujan dapat dilakukan dengan rencana aksi seperti pemasangan instalasi pemanfaatan air hujan (IPAH) sehingga masyarakat tidak terlalu bergantung pada distribusi air bersih oleh Perusahan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Ternate, disamping itu pulah manfaat pemasangan instalasi pemanfaatan air hujan sangat berguna untuk cadangan air tanah yang dipersoalkan karena semakin berkurang, serta inisiatif Infiltration lainnya adalah pembuatan Infiltration Pond, danau buatan atau waduk di sungai untuk pengendalian air hujan yang Run Off .

Adapun inisiatif lainya dengan dilakukannya penghematan penggunaan air bersih berdasarkan regulasi yang ditetapkan sehingga penggunaan air sesuai kebutuhan bukan keinginan yang ditujukan kepada swasta, pemerintah dan masyarakat sebagai wujut aksi dari pada strategi pemanfaatan dan pengelolaan air bersih. Hal lain perlu adanya pembatasan reklamasih pantai untuk pembuatan hutan mangrove buatan di pesisir pantai sebagai upayah pencegahan intrusi air laut, abrasi, gelombang pasang dan lainnya.

Add Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Phone: 0921 - 3123979
Fax: 0921 - 3123979
Jln. K.H. Ahmad Dahlan No. 100, Kel. Sasa, Ternate, Maluku Utara
No. 100, Kel. Sasa
Style switcher RESET
Body styles
Color settings
Link color
Menu color
User color
Background pattern
Background image
Arabic AR Chinese (Simplified) ZH-CN English EN Indonesian ID Thai TH