Ke-Puncak Gunungapi Gamalama

Ke-Puncak Gunungapi Gamalama

Studi Kasus DAS Tugurara Gunungapi Gamalama
Oleh:
Julhija Rasai, ST, MT.
Dosen Fakultas Teknik Pertambangan UMMU

Kawasan terbangun atau kawasan permukiman merupakan bagian dari lingkungan hidup diluar kawasan lindung, baik berupa kawasan perkotaan maupun perdesaan, yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian dan tempat kegiatan yang mendukung perikehidupan dan penghidupan. Kawasan permukiman atau yang sering dikenal dengan kawasan terbangun umunya mempunyai prasarana, sarana, utilitas umum, serta mempunyai penunjang kegiatan fungsi lain dikawasan perkotaan atau kawasan perdesaan. Kota Ternate dengan berbagai aktifitas pembangunan infrastruktur yang berada dibawah kaki gunungapi Gamalama, selalu mengalami peningkatan kawasan terbangun. Pembangunan kawasan terbangun merupakan suatu pembangunan fisik yang dilakukan oleh masyarakat dan pemerintah dalam hal ini, masyarakat melakukan pembangunan fisik seperti tempat hunian dan pembangunan fisik yang dilakukan oleh pemerintah seperti perkantoran, jalan, sekolah dan fasilitas umum lainnya.

Hasil kajian secara geografis maupun secara spasial (keruangan) pulau Ternate yang dibentuk oleh aktifitas vulkanik gunungapi Gamalama dengan berbagai macam bentuk ancaman-ancaman bencana seperti banjir lahar, aliran lava, awan panas dan land subsidence tidak menjadi ancaman yang berpengaruh (berdampak), sehingga kawasan terbangun yang dimaksud kini semakin meningkat setiap tahunnya dan mengarah ke hulu atau Ke-Puncak Gunungapi Gamalama. Peningkatan kawasan terbangun telah menyebabkan semakin berkurangnya kawasan daerah resapan air, akibat dari penggunaan lahan pada kawasan hutan sebagai lahan perkebunan dan lahan pertanian yang saat ini mulai terbangunkan pembangunan fisik, sehingga dapat mempengaruhi atau menguranggi proses terjadinya infiltrasi (resapan) apabilah saat terjadi hujan. Hal tersebut sangat berpotensi pada ancaman bencana banjir bandang dan banjir lahar yang tidak dapat terkendali sehingga dapat mengakibatkan bencana bagi masyarakat apabilah persoalan tersebut tidak diperhatikan sebagaimana yang pernah terjadi pada kasus banjir lahar tahun 2011-2012 dikawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Tugurara, yang bertepatan setelah erupsi dasyat sebelumnya pada waktu itu.

Maksud dari pada tulisan ini menjelaskan bahwa Kota Ternate terlihat jelas kondisi spasial (keruangannya) menggambarkan suatu polah yang berkembang setiap tahunnya dimana pembangunan fisik tidak lagi terkendali yang seharusnya ditata oleh tatakelolah dalam hal ini pemerintah Kota Ternate berdasarkan Rencana Tataruang Wilayah (RTRW) tahun 2012-2032. Pesatnya pembangunan fisik yang berkembang di Kota Ternate telah memberikan suatu gambarkan dinamika kompetisi antara masyarakat dan pemerintah atau swasta, dimana pemerintah dan swasta bekerja sama berlomba-lomba melakukan reklamasi pantai untuk pembangunan perkotaan Kota Ternate, sedangkan masyarakat yang sangat mustahil melakukan reklamasi pantai dengan kebutuhan anggaran yang sangat besar, sehingga hampir sebagian besar masyarakat Kota Ternate melakukan pembangunan fisik (tempat hunian) mengarah ke-puncak gunungapi Gamalama. Kajian dengan tema “Ke-Puncak Gunungapi Gamalama” distudi kasuskan pada kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Tugurara, diamana sungai Tugurara merupakan salah satu sungai yang berada dikawasan gungapi Gamalama tepatnya berada di Kecamatan Kota Ternate Utara, yang di huni dan diapit oleh masyarakat di tiga kelurahan yaitu, Kelurahan Tubo, Kelurahan Akehuda dan Kelurahan Dufa-Dufa.

Dari ke tiga kelurahan tersebut pengamat lebih menyoroti dan mengfokuskan hanya pada Kelurahan Tubo dan Kelurahan Dufa-Dufa yang menjadi salah satu sampel terkait peningkatan kawasan terbangun yang semakin ke-puncak gunungapi Gamalama di Kota Ternate, hal ini dikarenakan luas kawasan terbangun hanya terjadi pada Kelurahan Tubo dan Kelurahan Dufa-Dufa disetiap tahunnya. Luas kawasan terbangun yang terjadi dapat dilihat tingkat perbedaanya diantara ke tiga kelurahan tersebut dimana Kelurahan Akehuda tidak mengalami perubahan luas kawasan terbangun sejak tahun 2009 dikarenakan pada bagian utara-timur di batasi oleh Bandar Udara Sultan Babullah, arah barat dibatasi oleh Kelurahan Tubo, sedangkan arah selatan dibatasi oleh Sungai Tugurara dan Kelurahan Dufa-Dufa.

Berkembangnya suatu kewasan terbangun berkorelasi dengan meningkatnya jumlah penduduk, hal tersebut terjadi pada Kelurahan Tubo dan Kelurahan Dufa-Dufa, dimana terjadi peningkatan jumlah penduduk sehingga berpengaruh atau berdampak terhadap perubahan luas kawasan terbangun yang setiap tahunnya semakin bertambah dan mengarah ke hulu sungai Tugurara atau semakin ke-puncak gunungapi Gamalama sejak tahun 2008-2016. Pertumbuhan penduduk yang pesat merupakan hasil dari meningkatnya angka perkawinan, kelahiran, menurunya tingkat kematian dan meningkatnya migrasi (Nawiyanto, 2009). Kawasan terbangun yang dimaksud merupakan suatu kegiatan pembangunan yang dilakukan oleh masyarakat atau penduduk setempat dan pemerintah Kota Ternate. Pembangunan yang semakin berkembang ke arah puncak gunungapi Gamalama terlihat jelas didominasi oleh pembangunan yang dilakukan masyarakat setempat berupa bangunan hunian serta lahan pekarangan, berdasarkan hasil survey lapangan dan analisis Geographic Information System (GIS). Berkembangnya pembangunan tersebut juga didukung oleh pemerintah dan swasta sehingga pembangunan kawasan terbangun semakin ke arah puncak, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa pembangunan yang dilakukan pemerintah Kota Ternate dapat berupa fasilitas umum yaitu, perkantoran, sekolah, jalan dan fasilitas umum lainnya.

Meningkatnya suatu kawasan terbangun yang terjadi dikarenakan suatu tuntutan kehidupan diamana tempat tinggal adalah salah satu aspek utama keberlangsungan hidup. Perubahan luas kawasan terbangun yang telah dijelaskan, berkorelasi (berhubungan) dengan meningkatnya jumlah penduduk yang terjadi pada tahun 2008 di Kelurahan Dufa-Dufa sebanyak 1.053 Kepala Keluarga (KK) serta luas kawasan terbangun sebesar 46,694 Ha dan jumlah penduduk Kelurahan Tubo sebanyak 413 KK dengan luasan kawasan terbangun sebesar 18,622 Ha, yang selalu terjadi peningkatan setiap tahunnya sehingga pada tahun 2016 jumlah penduduk di Kelurahan Dufa-Dufa bertambah menjadi 1.262 KK dengan luasan kawasan terbangun yang juga semakin bertambah menjadi 62,831 Ha, hal yang sama juga terjadi di Kelurahan Tubo dimana jumlah penduduk bertambah menjadi 532 KK, dengan luas kawasan terbangun bertambah menjadi 42,700 Ha, dan akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu dengan berbagai tuntutan kehidupan, yang mana hasil kajian spasial (keruangan) dan analisis Geographic Information System (GIS) menunjukan bahwa Kelurahan Tubo dan Kelurahan Dufa-Dufa telah mendekati kawah atau puncak gunungapi Gamalam dengan jarak ±3-4 km.

Olehnya itu pembangunan fisik berupa tempat hunian dan fasilitas umum di Kota Ternate sangat perlu dikontrol dan ditata sedemikian rupa sehingga persoalan alih fungsi lahan tidak lagi terjadi karena sangat berdampak buruk terhadap aspek kehidupan masyarakat perkotaan. Kenapa sedemikian perlu diperhatikan karena akan membawah malapetaka (dampak) bagi masyarakat dan pemerintah yang menghuni disepanjang daratan pulau Ternate, yang manah kita ketahui bersama bahwa pulau Ternate dengan gunungapinya sangat mengancam keselamatan. Maka dari itu pemerintah Kota Ternate perlu mempertegas dan membatasi Izin Membangun Bangunan (IMB) yang hingga saat ini telah menganggu stabilitas lahan atau kawasan sebagai kawasan konservasi atau hutan lindung yang terlihat jelas sebagian besar telah beralih fungsi menjadi lahan pertanian dan lahan perkebunan dan saat ini mulai terbanggunkan kawasan terbangun.

Add Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Phone: 0921 - 3123979
Fax: 0921 - 3123979
Jln. K.H. Ahmad Dahlan No. 100, Kel. Sasa, Ternate, Maluku Utara
No. 100, Kel. Sasa
Style switcher RESET
Body styles
Color settings
Link color
Menu color
User color
Background pattern
Background image
Arabic AR Chinese (Simplified) ZH-CN English EN Indonesian ID Thai TH